1. judul resensi.
2. identitas buku. terdiri dari judul buku, penulis, penerbit, dll
3. pendahuluan. terdiri dari gambaran isi buku (sinopsos untuk karya fiksi) dan tujuan pengarang buku (biografi pengarang buku untuk karya fiksi)
4. isi resensi. terdiri dari susunan penyajian buku (unsur karya sastra untuk karya fiksi), gaya bahasa yang dipakai penulis, kelebihan dan kekurangan buku, perbandingan dengan buu sejenis
5. penutup resensi. terdirui dari manfaat buku (buku tersebut cocok bibaca siapa dan mengapa), kesimpulan tentang keuntungan yang dapat dipetik pembaca dan kemungkinan kerugian yang didapat pembaca
6. biografi resentator
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Selasa, 01 Mei 2012
Minggu, 25 Maret 2012
Resensi Buku Non Fiksi
Metode Cling…! Semua Rumus Kimia Gak Pake Mikir…!
Identitas
buku:
ü Judul :
Metode Cling…! Semua Rumus
Kimia Gak Pake Mikir…!
ü Penulis :
Forum Tentor
ü Penerbit :
Pustaka Widyatama
ü Jumlah halaman :
xii + 372
ü Tahun terbit :
2011
ü Harga buku :
Rp26.500,00
Banyak siswa SMA yang menganggap
pelajaran kimia itu sulit. Dengan adanya buku “Metode Cling…! Semua Rumus Kimia
Gak Pake Mikir…!” yang mengulas tentang materi pelajaran kimia untuk siswa SMA
mungkin bisa mengubah pendapat para siswa. Karena di dalam buku ini, materi
disampaikan secara ringkas dan mudah untuk dipahami. Jadi, buku ini bisa
dijadikan pegangan untuk siswa ataupun para pengajar selain buku paket.
Sinopsis Karya Sastra Melayu Klasik
Hikayat Mahasyodak
Ada seorang saudagar yang memiliki seorang putra,
Mahasyodak, yang arif lagi bijaksana. Sejak kecil ia sudah membantu ayahnya
mengadili orang yang berbuat salah dan menyelesaikan berbagai macam masalah.
Ketika berusia tujuh tahun, raja hendak menjadikannya sebagai pegawai negeri (abdi
raja). Namun, dihalangi oleh empat guru raja dengan berbagai macam syarat yang
diajukan mereka. Tapi, Mahasyodak dapat mememenuhi semua syaratnya.
Di suatu tempat lain, ada pendeta yang memiliki
lima murid, salah satunya adalah si Celaka yang dinikahkan dengan Puteri Mereka
Dewi, putri pendeta. Namun, si Celaka hanya ingin melarikan diri dari istrinya.
Ia menipu Puteri Mereka Dewi dan meninggalkannya di atas pohon. Kebetulan, raja
tengah lewat di depan pohon itu. Mahasyodak menyarankan raja untuk menikahi
Puteri Mereka Dewi. Ketika raja tahu asal-usul Puteri Mereka Dewi, ia sangat
senang istrinya berasal dari keluarga yang mulia. Mahasyodak semakin disayang
raja, sementara empat guru raja semakin membencinya.
Suatu ketika Mahasyodak ditanya raja dan ia pun
menjawab bahwa orang berakal lebih baik daripada orang yang berharta, namun
empat guru raja menentangnya. Akhirnya, raja mengurung Mahasyodak dan keempat gurunya
di dua gedung yang dibuat dari papan, tetapi terlihat seperti gedung batu.
Bilik Mahasyodak hanya berisi beberapa peralatan sementara keempat guru raja
berisi harta selain peralatan yang sama. Namun hanya Mahasyodak yanng berhasil
menemukan gedung yang berisi makanan disamping kedua gedung tersebut. Keempat guru
pun terpaksa membeli makanan dari Mahasyodak. Suatu hari, seorang dewata turun
dan mengancam akan membunuh raja kecuali empat teka-tekinya dapat dijawab.
Mahasyodak dapat menjawabnya dengan mudah.
Jumat, 23 Maret 2012
Cerpen 1
Pesan Terakhir
Pagi yang cerah menyambutku hari ini. Begitu juga senyuman hangat dari Icha
yang sedang menungguku di depan kelas. Aku menghampirinya, lalu kusapa dia
dengan senyuman yang tak kalah hangat. Yap,…dialah Icha, teman baikku. Kami memang
dekat sejak pertama masuk sekolah menengah atas.
Akan tetapi akhir-akhir
ini kulihat senyum itu jarang menyapaku. Icha tampak murung. Dia juga sering
melamun. Sepertinya dia sedang punya masalah yang sulit untuk diselesaikan.
Setiap aku suruh dia cerita, dia selalu manjawab ‘aku baik-baik saja,La’.
Ketika sore hari, Icha
datang ke rumahku. Dia tiba-tiba menangis. Aku mencoba menenangkannya. Kuharap
dia mau berbagi cerita denganku. Setelah berhenti menangis, akhirnya Icha mau
bercerita tentang masalahnya.
“ La, orang tuaku
bercerai;” ungkap Icha.
“ Apa????” aku sangat
kaget mendengarnya.
“ Sebenarnya sudah lama
mereka bertengkar. Aku sengaja nggak cerita ke kamu. Aku malu sama kamu, La.
Ini semua adalah kesalahan ayah. Ayah selingkuh, La. Mama juga salah, karena
mama selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sampai lupa akan suami dan anak-anaknya.
Akhirnya mereka memilih untuk bercerai. Aku benci mereka, La! Mereka semua
egois, nggak pernah peduli perasaanku,” air mata Icha kembali menetes.
“ Kamu nggak boleh seperti
itu, Cha! Ini semua cobaan buat kamu. Kamu harus sabar menghadapinya!”
“ Aku nggak kuat kalau
harus menghadapi ini sendirian,La.”
“ Masih ada aku, dan
tentunya keluargamu yang lain, Cha. Jadi kamu nggak perlu takut.”
“ Aku mau buat ulah, La.
Supaya mereka merhatiin aku. Apapun akan kulakukan supaya mereka peduli sama
aku. “
“ Jangan melakukan hal
yang konyol, Cha!”
Langganan:
Postingan (Atom)